Konseling Agama
A.
Pengertian dan Tujuan
Konseling Agama adalah: Usaha pemberian bantuan kepada seseorang yang
mengalami kesulitan baik lahiriah maupun batiniah yang menyangkut kehidupannya
di masa kini dan di masa mendatang. Bantuan tersebut berupa pertolongan di
bidang mental dan spiritual, agar orang yang bersangkutan mampu mengatasinya
dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri maupun dorongan dari kekuatan
iman dan takwa kepada Tuhan. Adapun pengertian Konseling agama lebih spesipik
lagi yaitu pengertian konseling agama Islam ialah proses pemberian bantuan kepada
individu agar menyadari / menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah
yang seharusnya dalam kehidupan keagamaannya senantiasa selaras dengan
ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan hidup di
dunia dan akhirat. Pada konseling ini penekanannya pada upaya kuratif atau
pemecahan masalah yang dihadapi seseorang, secara Islami berarti konseling
agama Islam membantu individu menyadari kembali ke beradaan atau eksistensinya
sebagai makhluk Allah, sebagai ciptaan Allah yang diciptakan-Nya sesuai dengan
petunjuk-Nya. Menyadari eksistensinya sebagai makhluk Allah berarti menyadari
bahwa dalam dirinya Allah telah menyertakan fitrah untuk beragama Islam dan
menjalankan dengan sebaik-baiknya sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia dan
akhirat.
Pendidikan Nasional, berdasarkan Pancasila dan
bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia
Indonesia seutuhnya, meningkatkan Kualitas manusia Indonesia, meningkatkan iman
dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi
budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar
dapat menumbuhkan manusia-manusia pembangunan yang dapat membangun dirinya
sendiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa yang mana
semua ini merupakan suatu strategi pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.
Dengan berpedoman atas garis-garis besar Program Pengajaran yang telah
ditetapkan oleh Pemerintah, baik oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tahun
1975 maupun oleh Menteri Agama RI tahun 1976. Pendidikan-pendidikan di sekolah
menghendaki terwujudnya manusia baru sesuai dengan falsafah Pancasila yaitu
manusia yang dapat hidup dalam pola keseimbangan, keserasian dan keselarasan
hubungan-hubungan antara :
a. Pribadi dengan Tuhannya
b. Pribadi dengan Masyarakat
c. Pribadi dengan alam sekitar
d. Pribadi dengan dirinya sendiri
Manusia baru Indonesia yang kita kehendaki adalah
manusia yang serba utuh lahir dan batinnya, dalam hidup duniawi dan ukhrowinya
yang mampu membangun diri dan masyarakatnya dan negaranya dengan bekal ilmu dan
keterampilan yang dijiwai oleh nilai-nilai agamanya. Untuk mewujudkan manusia
yang demikian itu, tidaklah cukup hanya ditangani melalui pendidikan formal dan
nonformal semata-mata, melainkan perlu pula ditunjang dengan program lainnya
secara menyeluruh seperti program bimbingan dan konseling umum dan Agama dan
sebagainya. Melalui peningkatan pelaksanaan program bimbingan dan konseling
Agama, program pendidikan atau pengajaran di sekolah dan luar sekolah akan
lebih lan cara pelaksanaannya. Adapun tujuan dan fungsi dari Konseling Agama
diantaranya :
1. Untuk mengungkapkan kemampuan dasar
mental-spiritual dan agama dalam pribadi anak agar diaktualisasikan dan
difungsionalkan menjadi tenaga pendorong (motivator) bagi peningkatan proses
kegiatan belajar mengajar anak didik.
2. Berusaha meletakkan kemampuan mental-spiritual
tersebut sebagai benteng pribadi anak didik dalam menghadapi tantangan dan
rongrongan dari luar dirinya, baik yang berbentuk mental maupun yang berbentuk
material.
3. Berusaha menanamkan sikap dan orientasi kepada
hubungan dalam empat arah yaitu dengan Tuhannya, dengan masyarakatnya, dengan
alam sekitarnya dan dengan dirinya sendiri sehingga menjadi pola hidup yang
bersendikan nilai-nilai agamanya.
4. Berusaha mencerahkan kehidupan batin sehingga
segala kesulitan yang dihadapi, akan mudah diatasi dengan kemampuan mental
rohaniahnya.
A. Sekilas Pandang Hakikat dan Tujuan manusia
Islam memandang manusia sebagai satu kesatuan yang
terdiri dari ruh, jasad dan akal yang saling terikat dan tidak mungkin
dipisahkan menjadi beberapa bagian. Manusia bukanlah ruh tanpa jasad, bukan
hanya makhluk yang hanya terdiri dari jasad tanpa akal, atau hanya terdiri dari
jasad tanpa ruh.Sisi-sisi tersebut merupakan kesatuan yang saling berkaitan,
baik dari fisik maupun psikisnya. Agama Nasrani, Budha, dan Hindu melihat
manusia hanya dari sisi ruh dan mengabaikan sisi yang lainnya, melihat setiap
ynag bersifat ruhiyah adalah benar, harus diperhatikan dan di dukung keberadaannya,
dan semua yang bersifat materi adalah kotor. Padahal mereka pasti memerlukan
materi yang mereka beri cap jelek, hina, dan harus dijauhi. Hal tersebut
menyebabkan dampak negative yang destruktif, yang mewariskan kejahatan dan
kehancuran dari sisi materi serta mengalami keterbelakangan dalam kehidupan.
Islam adalah konsep yang menggabungkan antara sisi
materi dan sisi ruhiyah manusia, jauh dari penyelewengan seperti halnya
konsep-konsep yang lain. Islam menyakini sisi materi manusia, karena manusia
tercipta dari segenggam tanah, sebagaimana firman Alloh S.W.T, “ Ingatlah
ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, ‘ Sesungguhnya Aku akan menciptakan
manusia dari tanah’.” ( Qs. Shaad(38):71). Di samping Islam mengakui sisi ini,
Islam juga memenuhi kebutuhannya ( seperti makan, minum, pakaian, tempat
tinggal, dan segala kebutuhan jasad lainnya ) dengan jelas dan pasti. Islam
mempunya pandangan seperti ini agar manusia mampu mengemban tugas yang Alloh
S.W.T bebankan kepadanya, yaitu khilafah dan memakmurkan dunia ini, sebagaimana
firman Alloh S.W.T,:” Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat:
"Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi."
Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu
orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami
senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan
berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
(Qs. Al-Baqarah : 30).
Manusia diciptakan dengan diberi perangkat akal, dan
ini adalah sebab utama Alloh SWT membebaninya dengan tugas berat ini yaitu
sebagai khalifah di muka bumi ini. Selain kedua hal tadi, Islam juga menyakini
bahwa manusia mempunyai sisi ruhiyah yang di tandai dengan ditiupkannnya ruh
kedalam tubuh manusia, seperti yang difirmankan Alloh SWT, “Maka apabila Aku
telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh
(ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud .” (Qs. Al-Hijr
:29). Sisi itulah yang merupakan letak kemuliaan manusia, yaitun suatu dimensi
dimana manusia melampaui derajat yang paling sempurna dari sisi moral
kemanusiaan. Sisi inilah yang membedakan setiap gerakan jasad manusia dengan
hewan, karena Alloh SWT juga menciptakan hewan dengan perangkat ini, walaupun
berbeda cara pemenuhannya.Islam tidak mengesampingkan sisi yang terpenting
manusia sebagai individu, sisi itu ialah kantung nilai moral dan akhlak yang
bertugas mengendalikan setiap gerakan jasad manusia agar tidak menyeleweng dari
aturan. Seandainya kebutuhan-kebutuhan itu tidak dipenuhi dengan benar , maka
keseimbangan mahkluk manusia akan guncang sehingga akhirnya berjalan dengan
pincang dan jatuh tersungkur. Oleh karena itu, Islam mengakui sisi tersebut dan
dan memenuhi kebutuhan asasinya yaitu akidah, ibadah, dan nilai-nilai akhlak
yang mulia.
Mekanisme ini merupakan upaya untuk menciptakan
kebahagiaania manusia yang hakiki dalam mencapai tujuan dalam alam wujud ini,
yaitu hanya beribadah kepada Alloh SWT. Alloh SWT berfirman :” Dan aku tidak
menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (Qs.
Adz-Dzaariyat:56). Jika tujuan hidup kita pada umumnya hanya untuk beribadah
kepada Alloh SWT, maka makna ibadah harus ditinjau dari semua aspek. Ia
merupakan panduan yang mencakup semua aspek. Ia merupakan panduan yang mencakup
semua sisi kehidupan, hingga aktivitas kita seremeh apapun bernilai ibadah yang
harus kita perhatikan dan kita niatkan hanya untuk beribadah karena Alloh SWT.
B. Perilaku Bermasalah Manusia
Dalam pandangan agama, manusia dikatakan mempunyai
perilaku yang bermasalah tatkala manusia melakukan sebuah aktivitas yang
bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai agama tersebut yang telah
menjadi pegangan hidup. Manusia memberi sifat pada suatu aktifitas dengan baik
dan buruk berdasarkan manfaat atau bahaya yang menimpanya sebagai akibat dari
perbuatannya adalah sifat yang tidak benar dan tidak tetap, karena sifat itu
datang dari manusia. Sedangkan manusia itu tempat perbedaan, perselisihan, pertentangan
dan terpengaruh oleh lingkungan. Akal manusia yang tidak mampu berbagai akibat
sebelum terjadinya akibat-akibat itu. Maka sifat hakiki bagi aktivitas
bahwasanya pekerjaan itu baik atau buruk itu tidak datang dari manusia dan
tidak pula datang dari pekerjaan itu sendiri. Membunuh adalah satu pekerjaan,
kalau dilakukan seorang muslim bisa kmenjadi baik apabila pembunuhan itu
membunuh orang yang memerangi, dan bisa menjadi buruk apabila membunuh penduduk
warga Negara atau membunuh kafir Mu’ahad. Maka menyifati pekerjaan dengan baik
dan burukitu tidak datang dari zat pekerjaan itu dan tidak pula datang dari
manusia. Sifat itu hanya datang dari faktor-faktor di luar manusia, dan
faktor-faktor ini bersandar pada sudut pandang tentang kehidupan. Yaitu akidah
atau keyakinan yang dipeluk oleh manusia, dan pemikiran-pemikiran juga
sistem-sistem yang memancar dari akidah.
Sedangkan menurut agama Islam perilaku bermasalah
manusia mempunyai standar yang rinci untuk sesuatu yang baik dan buruk.
Aktivitas apabila terdiri dari sesuatu yang diridhai Alloh, yaitu dengan
menta’ati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangan-Nya, maka
aktivitas itu baik. Dan apabila aktivitas iti dari hal yang dimurkai Alloh,
yaitu karena menyalahi perintah-perintah-Nya serta melaksanakan
larangan-larangan-Nya, maka aktivitas tersebut dianggap buruk atau bermasalah.
Jadi, baik-menurut orang muslim- adalah sesuatu yang diridhai Alloh. Sedangkan
buruk adalah sesuatu yang dimurkai Alloh SWT. Shalat, jihad dan mengemban
dakwah adalah baik karena diridhoi Alloh, sedangkan riba, zina adalah buruk
karena dimurkai Alloh tanpa memandang manfaat atau bahaya yang menimpa manusia
dalam kehidupan dunia sebagai akibat dari perbuatannya. Kemudian kehidupan
akhirat, yaitu tempat kenikmatan yang abadi di syurga, atau adzab yang sangat
menyakitkan di neraka, sebagai balasan dari apa yang telah dikerjakan manusia
dari perbuatan baik atau buruk. Alloh SWT berfirman :” Maka siapa saja yang
mengerjakan kebajikan seberat dzarrah-pun, niscaya dia akan melihat (balasan)
nya. Dan siapa saja yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah-pun, niscaya dia
akan melihat (balasan)nya pula.” ( Qs. Al-Zalzalah:7-8).
Bagi pembimbing dan konselor agama, sasaran psikologis
yang perlu dipahami ialah perkembangan kemampuan beragama anak bombing sesuai
dengan tingkat-tingkat atau periode-periodenya secara individual. Dari segi
preventif, bimbingan dan konseling agama harus dapat menghindarkan anak bombing
dari segala bentuk gangguan atau hambatan dalam proses pembinaan hidup
beragama, misalnya sering timbulnya sikap keragu-raguan dalam jiwa anak bombing
terutama pada periode menginjak masa puberitas, karena akibat perkembangan
kecerdasan pikiran sehungga bersikap kritisasional dalam menerima dogmatika
agama yang dianggap kurang kontekstual dengan kenyataan hidup masyarakat dan
ilmu pengetahuan modern yang canggih saat ini, dan yang akan datang. Juga
keragu-raguan timbul karena kekecewaan (frustasi) akibat usaha atau harapan
tidak terpenuhi, seperti dalam agama diajarkan bahwa barangsiapa berdoa
sungguh-sungguh, pasti akan di kabulkan. Sedang kenyataannya dia gagal dalam
ujian, padahal telah berkali-kali berdo’a dengan khusyu’ dan sepenuh hati
sebelumnya.
Keragu-raguan karena melihat kenyataan hidup dalam
masyarakat yang bertentangan dengan nialai-nilai agama yang diajarkan di
sekolah, seperti, adanya kenyataan orang yang tekun beribadah justru banyak
yang miskin, sedang orang lain banyak dilimpahi rizki oleh Tuhan, timbulnya
pelanggaran susila dalam pergaulan masyarakat atau sadism atau kemunafikan
dikalangan umat beragama tertentu dan sebagainya. Perasaan stress (tertekan),
kecemasab dan keresahan batin, karena pengaruh faktor dari dalam (internal) dan
dari luar (eksternal) sering menimbulkan tindakan-tindakan remaja nakal yang
beraneka macamnya sampai pelanggaran susila, sadism dan kejahatan lainnya.
Harus dikaji sumber penyebabnya, apakah karena pengaruh keretakan keluarganya,
atau karena pergaulan, ataukah Karen afaktor-faktor lainnya. Oleh karena itu,
tugas pembimbing dan konseling agama mempunyia sasaran luas seiring dengan
tuntutan kebutuhan perkembangan hidup anak bombing itu sendiri akibat
dampak-dampak kemajuan kebudayaan dan ilmu atau teknologi modern. Semakin
manusia modern maka semakin kompleks (ruwet) jiwanya, dan semakin meningkat
tuntutan hidupnya, tetapi semakin kurang peka kepada sentuhan agama.
C. Metode Konseling Agama
Dalam proses kegiatan pelayanan bimbingan dan
konseling pada umumnya, bimbingan dan konseling agama pada khususnya di
sekolah, salah satu komponen yang penting adalah metode yang perlu diterapkan.
Efektivitas suatu metode ditentukan oleh sikap dan pendekatan pembimbing atau
Konselor terhadap sasaran terbimbing ( anak bombing ), di samping jenis atau
bentuk dari metode itu sendiri, sejauh mana kesesuaiannya atau ketetapannya
terhadap saasaran yang digarap. Metode bimbingan dan konseling agama berfungsi
sebagai penunjang kelancaran program pendidikan di sekolah yang pelaksanaannya
berdasarkan atas pendekatan individual atau kelompok
Ada beberapa metode yang lazim dipakai dalam bimbingan
dan konseling agama dimana sasarannya adalah mereka yang berada didalam kesulitan
mental-spiritual disebabkan oleh faktor-faktor kejiwaan dari dalam dirinya
sendiri, seperti tekanan batin (depresi mental), gangguan perasaan (emotional
disturbance), tidak mampu mengadakan konsentrasi pikiran, dan gangguan batin
lainnya yang memerlukan pertolongan. Dan juga disebabkan oleh faktor-faktor
dari luar dirinya, seperti pengaruh dari lingkungan hidup yang menggoncangkan
perasaan (misalnya, orang yang dicintai telah meninggalkan dirinya), pekerjaan
rumah yang berat sehingga menghambat proses belajar mengajar di sekolah, dan
lain-lain penyebab yang banyak menimbulkan hambatan batin anak bimbing.
Untuk mengungkapkan segala sesuatu yang menjadi sebab
kemunduran prestasi belajar, maka anak bimbing perlu didekati melalui metode
sebagai berikut:
1. Wawancara, adalah salah satu cara memperoleh
fakta-fakta kejiwaan yang dapat dijadikan bahan pemetaan tentang bagaimana
sebenarnya hidup kejiwaan anak bimbing pada saat tertentu yang memerlukan
bantuan.
Wawancara baru dapat berjalan dengan baik bilamana memenuhi
persyaratan sebagai berikut:
a. Pembimbing harus berkomunikatif dengan anak
bimbing.
b. Pembimbing harus dapat dipercayai oleh anak bimbing
sebagai pelindung.
c. Pembimbing harus dapat menciptakan situasi dan
kondisi yang memberikan perasaan damai dan aman serta santai kepada anak
bimbing.
d. Pembimbing harus dapat memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang tidak menyinggung perasaan anak bimbing.
e. Pembimbing harus dapat menunjukkan i’tikad baiknya
dalam menolong anak bimbing mengatasi segala kesulitan yang sedang dihadapi.
f. Masalah-masalah yang ditanyakan oleh pembimbing
harus benar-benar mengenai sasaran (to the point) yang ingin diketahui.
2. Segala fakta yang diperoleh dari anak bimbing
dicatat secara teraturdan rapi didalam buku catatan (cumulative records) untuk
anak bimbing yang bersangkutan serta disimpan baik-baik sebagai file (dokumen
penting). Pada saat dibutuhkan, catatan pribadi tersebut dianalisis dan
diidentifikasi untuk bahan pertimbangan tentang metode apakah yang lebih tepat
bagi bantuan yang harus diberikan kepadanya.
3. Metode Group-guidance (bimbingan kalompok)
Bilamana metode interview atau wawancara merupakan
cara pemahaman tentang keadaan anak bimbing secara individual (pribadi), maka
bimbingan kelompok adalah sebaliknya, yaitu cara pengungkapan jiwa/batin serta
pembinaannya melalui kegiatan kelompok, seperti ceramah, diskusi, seminar,
simposium, atau dinamika kelompok (group dynamics), dan sebagainya.
Metode baru dapat berjalan dengan baik bilamana
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Berlangsung ditempat yang cukup tenang, jauh dari
gangguan apapun, sebaiknya tempat tersebut memiliki ventilasi udara dan cahaya
sinar matahari atau lampu.
b. Kelompok tidak terlalu besar, sebaiknya jangan
lebih dari 13 orang.
c. Secara periodik perlu diisi dengan ceramah-ceramah
tentang topik-topik masalah yang berkaitan dengan pengembangan karier,
pekerjaan, danjabatan-jabatan yang tersedia.
d. Sebelum melaksanakan bimbingan kelompok, hendaknya
pembimbing agama mengadakan musyawarah dengan anaqk bimbing tentang kegiatan
yang sangat penting dan diperlukan oleh mereka hendaknya mereka yang menjadi
penanggung jawab/penyelenggaranya.
e. Mengikutsertakan staf administratif, staf guru,
guru kelas, wali kelas dan sebagainya, yang disetujui oleh kepala sekolah.
f. Waktu yang disediakan jangan terlalu sempit,
sekurang-kurangynya 2 jam pelajaran.
4. Metode Nondirektif (cara yang tidak mengarahkan)
Cara lain untuk mengungkapkan segala perasaan dan
pikiran yang tertekan sehingga menjadi penghambat kemajuan belajar anak bombing
adalah metode nondirektif. Metode ini dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu:
1) Client centered, yaitu cara pengungkapan tekana
batin yang dirasakan menjadi penghambat anak bimbing dalam belajar dengan
sistem pancingan yang berupa satu-dua pertanyaan yang terarah.
2) Metode direktif yaitu cara pengungkapan tekanan
perasaan yang menghambat perkembangan belajar dengan mengkorek sampai tuntas
perasaan yang menyebabkan hambatan dan ketegangan, dengan cara client centered
yang diperdalam dalam pertanyaan yang motifatif dan persuasif (meyakinkan)
untuk mengingat-ingat, serta didorong untuk berani mengungkap perasaan tertekan
sampai keakar-akarnya.
5. Metode Psikoanalitis (penganalisaan psikis)
Metode ini berasal dari teori psiko-analisa Freud yang
digunakan untuk mengungkapkan segala tekanan perasaan, terutama perasaan yang
tidak didasari. Menurut teori ini, manusia yang senantiasa mengalami kegagalan
usaha dalam mengejar cita-cita atau keinginan, menyebabkan timbulnya perasaan
tertekan yang makin lama makin membengkak. Untuk memperoleh data-data tentang
jiwa tertekan bagi penyembuhan klien tersebut, diperlukan metode psikoanalisis
yang menganalisis gejala tingkah laku yang serba salah dengan menitik beratkan
pada perhatian berulang-ulang.
Adapun tentang mimpi, Freud, menyebutkan sebagai Via
Regia yaitu jalan raya yang dapat memberikan petunjuk tentang rahasia pribadi
pemimpi yang bersangkutan. Sebaiknya soal mimpi tidak perlu kita gunakan untuk
menganalisis jiwa klien.
6. Metode Direktif (Metode yang bersifat mengarahkan)
Metode ini lebih bersifat mengarahkan kepada anak
bimbing untuk berusaha menghadapi kesulitan (problema) yang dihadapi.
Pengarahan yang diberikan kepada anak bombing ialah dengan memberikan secara
langsung jawaban-jawaban terhadap permasalahan yang menjadi sumber kesulitan
yang dihadapi/dialami anak bombing.
Metode ini selain dipakai oleh para konselor
pendidikan atau konselor agama juga banyak digunakan oleh para dokter umum,
dokter jiwa (psycheater), penyuluh sosial.
7. Metode lainnya yang berkaitan dengan sikap sosial
dalam hubungannya dengan pergaulan anak bimbing sering dipakai metode
sosiometri, yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mengetahui kedudukan anak
bimbing dalam berhubungan kelompok.
D. Konseling dengan pendekatan Religio-Psychotherapy
Konseling agama atau di Barat disebut Pastoral
cuonseling , yang bertujuan pokok untuk memberikan bantuan pemecahan problema
kehidupan anak bombing secara individual, dengan melalui proses pencerahan
batin lewat potensi keimanan yang semakin kuat berpengaruh dalam pribadi,
sesuai dengan agama yang dianut anak bombing pada hakikatnya tidak juga
terlepas dari psikoterapi yaitu terapi yang didasarka pada pendekatan keagamaan
individual yang bersangkutan. Sebagaimana pengalaman seorang ahli penyakit jiwa
atau saraf, Dr. Carl Gustav Jung, dari Swiss, menunjukkan bukti bahwa penyakit
pasiennya yang berusia 35 tahun ke atas baru dapat disembuhkan bila mereka
dapat menemukan jalan keluar melalui penemuan kembali keimanannya sesuai ajaran
agama yang dianut.Dr.Jung menerapkan psikoterapi berdasarkan pendekatan agama
yang kemudian dikenal dengan “ Religio-psychotherapy” yaitu penyembuhan
penyakit melalui hidup kejiwaan yang didasari dengan nilaki keagamaan.
Beberapa ahli kedokteran jiwa meyakini bahwa
penyembuhan penyakit pasien dapat dilakukan lebih cepat jika digunakan metode
pendekatan keagamaan, yaitu dengan membangkitkan rasa keimanan kepada Tuhan
lalu menggerakkannya kea rah pencerahan batinnya yang pada akhirnya menimbulkan
kepercayaan diri bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa adalah satu-satunya kekuatan
penyembuh penyakit yang diderita. Dalam agama Islam terdapat beberapa ayal
Al-Quran yang menunjukkan bahwa Tuhan membuat seseorang menderita sakit dan
Dialah yang menyembuhkannya ( seperti ucapan Nabi Yahya yang menyatakan :” jika
aku sakit maka Dialah yang menyembuhkannya. “ )( Qs As-Syu’aro:80 ). Dan juga
sabda Nabi SAW yang menyatakan : “ Alloh tidaklah menurunkan suatu penyakit,
melainkan Dia juga menurunkan obat penyembuhnya.” Juga Alloh menyebutkan dalam
kitab suci Al-Quran bahwa Alloh tidak menurunkan Al-Quran melainkan untuk
menjadi obat penyhembuh bagi orang mukmin antara lain seperti firman Alloh SWT,
: “Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang
yang zalim selain kerugian belaka .”Qs. Al-isra:82.
Dalam kasus Nabi Muhammad sendiri yang pernah disihir
oleh orang kafir, dapat disembuhkan dengan membaca surat Al-Falaq. Dengan
demikian jika dilihat dari peristiwa sejarah pada masa Nabi, sistem penyembuhan
( healing ) terhadap penyakit psikosomatis, dilakukan dengan
religio-psikoterapi meskipun saat itu belum didasari dengan sistem pendekatan
disiplin ilmu, namun hanya berdasarkan petunjuk wahyu Tuhan semata-mata. Faktor
keyakinan pribadi yang berupa iman tersebut dapat berfungsi sebagai sumber
kekuatan penyembuh terhadap penyakit rohaniah pada khususnya.
Pengalaman Dr. Leslie Wetherhead, juga menunjukkan
bukti bahwa terdapat hubungan sebab akibat antara penyakit jiwa dengan
hilangnya makna nilai-nilai keagamaan dari dalam diri manusia. Buku karangannya
yang berjudul Psychology, Religion and Healing menceritakan tentang
pengalaman-pengalaman tersebut. Begitu pula Dr.H.C Link mendapatkan bukti-bukti
sama dan pengalamannya ditulis dalam buku yang berjudul “ The Return to
Religion”. Penerapan religio-psychotherapy untuk menyembuhkan penyakit jiwa
oleh Dr. Norman Vincent Peale dari Amerika Serikat, juga terbukti efektif. Ia
menuliskan pengalamannya dalam buku karangannya yang berjudul “ The Power of
Positive Thinking”. Di Florida, Amerika Serikat ada sebuah Lembaga Penelitian
tentang penyembuhan penyakit jiwa melalui daya pengaruh bacaan Al-Quran dalam
berbagai kasus penelitian atau percobaan yang terdiri dari kelompok percobaan
seperti kelompok (percobaan) yang terdiri dari orang-orang yang mengerti bahasa
Al-Quran dan kelompok (percobaan) yang tidak mengerti makna ayat-ayat Al-Quran
yang harus mendengarkan bacaan al-Quran. Ternyata bagi kelompok pertama, dapat
memperoleh kesembuhan secara bertahap. Bagi kelompok kedua juga memperoleh
kesembuhan yang kurang intensitasnya di banding dengan kelompok pertama yang
dapat memahami isi bacaan ayat-ayat Al-Quran.
BAB III
SIMPULAN
Konseling agama ialah usaha pemberian bantuan kepada
seseorang yang mengalami kesulitan baik lahiriah maupun batiniah yang
menyangkut kehidupannya di masa kini dan di masa mendatang. Bantuan tersebut
berupa pertolongan di bidang mental dan spiritual, agar orang yang bersangkutan
mampu mengatasinya dengan kemampuan yang ada pada dirinya sendiri maupun
dorongan dari kekuatan iman dan takwa kepada Tuhan. Adapun tujuan dan fungsi
dari Konseling Agama diantaranya :
1. Untuk mengungkapkan kemampuan dasar
mental-spiritual dan agama dalam pribadi anak.
2. Berusaha meletakkan kemampuan mental-spiritual
tersebut sebagai benteng pribadi anak.
3. Berusaha menanamkan sikap dan orientasi kepada
hubungan dalam empat arah yaitu dengan Tuhannya, dengan masyarakatnya, dengan
alam sekitarnya dan dengan dirinya sendiri.
4. Berusaha mencerahkan kehidupan batin.
Hakikat manusia dalam pandangan Islam ialah sebagai
satu kesatuan yang terdiri dari ruh, jasad dan akal yang saling terikat dan
tidak mungkin dipisahkan menjadi beberapa bagian. Sedangkan tujuan manusia
hidup di dunia ini adalah untuk beribadah kepada Alloh SWT dengan menta’ati
segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam pandangan agama seorang
manusia dikatakan mempunyai perilaku bermasalah tatkala manusia melakukan
sebuah aktivitas yang bertentangan atau tidak sesuai dengan nilai-nilai agama
tersebut yang telah menjadi pegangan hidup.
Ada beberapa metode atau teknik dalam konseling agama
diantaranya :
a. Wawancara
b. Cumulative record
c. Metode Group-guidance
d. Metode Nondirektif
e. Metode Psikoanalitis
f. Metode Direktif
g. Metode Sosiometri
Tidak ada komentar:
Posting Komentar